Jangan Meniru Kutu Anjing

Siang ini saya tertegun di meja kerja memikirkan banyaknya “hutang” pekerjaan yang wajib saya selesaikan minggu ini. Sementara sebuah pesan masuk ke ponsel saya, dari teman kerja saat kuliah di Medan dahulu, isinya sebuah masalah yang harus saya bantu menyelesaikannya. Diam-diam saya mengeluh dalam hati atas ketidakberdayaan saya mengelola waktu dengan baik.

Pikiran saya melayang teringat nasehat sahabat saya, menasehati saya lewat sebuah cerita menarik tentang perilaku kutu anjing atau biasa juga disebut kutu loncat. Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya.

“Coba kamu pikirkan, apa yang terjadi bila kutu loncat dimasukan ke dalam sebuah kotak korek api kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu,” ujar Lukmin.
Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja!
Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.

Itu yang terjadi kawan. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus saja begitu sehingga ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri.

Ia mulai berpikir, “Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya segini.”
Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman. Dia tidak lagi membentur dinding kotak korek api. Saat itulah dia menjadi sangat yakin, “Nah benar kan ? Kemampuan saya memang cuma segini. Inilah saya!”

Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak korek api. Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang sesungguhnya, mampu melompat 300 kali ukuran tubuhnya, tidak lagi tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh lingkungannya.

Misalnya anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga dia sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru tersinggung. Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan anda.

Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api. Coba ingat, ketika dia bicara begini, “Ngapain sih kamu kerja keras seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok.” Ingat! Mereka adalah kotak korek api. Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda.

Korek api juga bisa mewujud dalam bentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagainya. Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi dan kemampuan anda yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-hari.
Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus take action untuk menembus kotak korek api itu. Atau kalau dalam bahasanya Ali bin Abi Thalib, “Kesempatan datang bagai awan berlalu. Pegunakanlah ketika ia nampak di hadapanmu”.

Saya jadi teringat cerita tentang Louis Braille yang buta, andaikan ia menyerah dalam usahanya mengembangkan huruf-huruf yang mudah dipelajari kaum tuna netra, barangkali para tuna netra di seluruh dunia hanya sedikit saja yang bisa membaca. Sejak belia, Braille begitu gigih menciptakan huruf atau metode baca yang cocok untuk mereka yang tidak bisa melihat. Bahkan kini sudah ada Alqur’an Braille.

Atau jika saja Thomas Alva Edison menyerah saat usahanya menciptakan lampu bohlam berulangkali gagal. Kuncinya bagaimana kita menjadi sosok orang yang merdeka, sehingga mampu menembus berbagai keterbatasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s